Perjuangan Kiai dan Santri yang Terlupakan

51
Wais Walkorni : (Ketua Cab. PMII Mamuju)
 
Resolusi Jihad Fii Sabilillah
 
“Berperang menolak dan melawan pendjajah itoe Fardloe ‘ain (jang harus dikerjakan oleh tiap – tiap orang islam, laki – laki, perempoean, anak – anak bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang – orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu tadi Fardloe Kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagaian sadja)… ”
 
INFOSULBAR.COM, Opini — Deklarasi perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad yang dicetuskan oleh pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari, bersama dengan para Kiai dan Santri perwakilan cabang NU di seluruh Jawa dan Madura pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya, belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Fatwa Resolusi Jihad.
 
Pasca pertemuan 22 Oktober 1945 tersebut para Kiai dan Santri mulai bergerak dan berdatangan ke Surabaya sebagai bentuk perlawanan terhadap pasukan Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang datang setelah Proklamasi Kemerdekaan. Seruan jihad yang dikumandangankan dari masjid ke masjid, dari musholla ke musholla dan Bung Tomo pada tanggal 24 oktober 1945 berpidato di Radio berpesan kepada arek – arek surabaya agar jangan berkompromi dengan sekutu yang akan datang ke Surabaya. Penyebaran resolusi jihad tersebut dengan suka cita disambut penduduk surabaya dengan ber api – api untuk melawan kembalinya penjajah.
 
Pasukan Inggris yang terdiri dari serdadu jajahan India dan pasukan Belanda yang ikut membonceng karena masih berhasrat kuat kembali menguasai Indonesia. Resolusi Jihad merupakan perang suci yang diteriakkan untuk melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, yang membakar semangat Kiai dan Santri serta arek – arek surabaya untuk menyerang Markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Pada saat itu Jenderal Mallaby tewas bersama pasukannya.
 
Akibat dari serangan 3 hari tersebut meletuslah perang 10 November 1945, peperangan sengit antara pasukan Inggris yang berhadapan dengan masyarakat pribumi yang didominasi oleh Kiai dan Santri. Ribuan Pahlawan gugur, darah berceceran di Surabaya dan perang sekitar 3 minggu tersebut di catat sebagai perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara.
 
Para Santri dan Pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hisbullah yang dipimpin KH. Zainul Arifin, Para Kiai dan Pendekar tua membentuk pasukan barisan non reguler Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Masykur, sementara para Kiai sepuh berada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH. Wahab Chasbullah.
 
Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para Kiai dan Santri NU, tercatat ribuan atau bahkan jutaan Santri dan Kiai yang berjuang dan berperang melawan penjajah yang ingin menguasai indonesia, tak pernah gentar ataupun takut dalam menghadapi penjajah. Dan tidak dapat pula dihitung ribuan pahlawan dari Kiai dan Santri yang gugur di medan pertempuran.
 
Jadi secara sederhana para Kiai dan Santri NU telah berinvestasi dan memiliki saham besar terhadap keberlangsungan negara ini. Mulai sejak berdiri sampai saat ini konstribusi dan perjuangan Kiai dan Santri dalam merebut, berjuang dan mempertahanakan NKRI tidak dapat dipandang sebalah mata.
 
 
Perjuangan Santri dan Ulama Yang Dipinggirkan Dari Sejarah
 
Dalam buku sejarah nasional yang selama ini di pelajari di bangku sekolah selama 12 tahun, tidak mudah mendapatkan sejarah perjuangan Kiai dan Santri ketika kita menelusuri jejak sejarah bangsa indonesia dalam buku sejarah di bangku sekolah.
 
Peran sentral perjuangan Kiai dan Santri pada masa revolusi kemerdekaan indonesia telah dipinggirkan dalam penulisan sejarah secara resmi oleh negara. Sejarah panjang bangsa ini terkadang sangat mudah di pelintir atau bahkan dihilangkan akibat kepentingan politik yang terdapat dalam relasi kuasa (power relation) bangsa Indonesia.
 
Pemerintah tidak mencantumkan perlawanan dan perjuangan Kiai dan Satri dalam sejarah panjang pergulatan kemerdekaan Indonesia, hal tersebut membuat generasi muda jarang mengetahui secara detail perjalanan sejarah bangsa sendiri akibat pengaburan sejarah.
 
Peran pahlawan yang berasal Kiai dan Santri dalam sejarah telah digantikan oleh para pelaku yang realitasnya hidupnya menolak atau tidak berkontribusi terhadap perjuangan kemerdekaan.
 
Sejak awal masuknya penjajah kolonialisme dan imperialis sekitar tahun 1511, para penjajah tersebut berlawanan langsung dengan Ulama, Santri serta Sultan yang berjuang mempertahankan kedaulatan wilayah, kerajaan, bangsa dan agama. Jika sebuah gerakan perlawanan terhadap imperialis disebut sebagai gerakan nasionalisme, sedangkan dalam sejarah perjuangan mempertahankan Indonesia adalah Kiai dan Santri sebagai pelopor gerakannya.
 
Namun realitanya dalam sejarah tidak dituliskan, padahal Kiai dan santri dari berbagai pesantren yang ada pada saat itu merupakan kelompok cendikiawan muslim yang menentang kolonialisme dan imperialisme asing.
 
Sayang sekali, fakta sejarah tentang Resolusi Jihad NU dan Perang Massa (Tawuran Massal) tiga hari itu diam – diam tidak disunggung dalam penulisan sejarah seputar peristiwa pertempuran 10 November 1945 yang dikenang oleh Inggris dengan satu kalimat “Once and Forever”, bahkan belakangan peristiwa itu disingkirkan dari fakta sejarah seolah – olah tidak pernah terjadi, (Agus Sunyoto).
 
Yang sangat aneh dalam bangsa ini adalah hari lahirnya organisasi Budi Utomo (20 Mei 1908) di peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Namun realita yang terjadi saat itu, sampai dengan Kongres Budi Utomo di Surakarta pada tahun 1928, organisasi Budi Utomo memutuskan menolak pelaksanaan cita – cita persatuam Indonesia dengan bersikeras menjadikan organisasi itu tertutup bagi segenap suku bangsa Indonesia lainnya walaupun hanya sebatas anggota.
 
Hal ini karena organisasi Budi Utomo hanya dikhususkan bagi bangsawan Jawa bukan untuk suku bangsa Indonesia lainnya seperti non-jawa dan suku Jawa non-bangsawan, (Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku “Api Sejarah”).
 
Ini menjadi refleksi catatan buruk terhadap penulisan dan doktrin sejarah bangsa ini yang sampai hari ini terkadang memelintir, mengaburkan atau bahkan menghilangkan sejarah perjuangan para pahlawan yang telah berjuang untuk mempertahankan negara ini. yang diakibatkan elit penguasa yang memiliki kepentingan terhadap mengaburan atau bahkan penghilangan sejarah bangsa ini.
 
Hari Santri Nasional, Jangan Lupakan Jasa Kiai dan Santri
 
Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 2015, pemerintah mulai membuka mata dan mengakui perjuangan kalangan Kiai dan Santri serta rakyat Indonesia melalui fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 yang pada akhirnya mampu mengusir pasukan Inggris yang ingin menduduki Surabaya, yang sekian lama perjuangannya para Kiai dan Santri tersebut dipinggirkan dan bahkan tidak diakui oleh negaranya sendiri.
 
Momentum Hari Santri Nasional merupakan refleksi untuk mengenang, meneladani serta melanjutkan perjuangan Kiai dan Santri yang telah gugur dimedan pertempuran untuk mempertahankan negara ini dari para penjajah. Untuk mengingat historis perjuangan Kiai dan Santri bukan hanya dengan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, namun hal penting juga yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memberi pemahaman dan menuliskan sejarah yang sebenarnya adalah mencantumkan sejarah perjuangan Kiai dan Santri selama revolusi kemerdekaan Indonesia ke dalam buku sejarah yang menjadi panduan belajar di bangku sekolah.
 
Pesantren merupakan sebuah tempat yang tak dapat dipisahkan dari seorang Kiai dan Santri, pesantren merupakan pusat kaderisasi Kiai dan Santri, selain sebagai lembaga pendidikan pesantren juga merupakan simbol perlawanan yang kerap kali memobilisasi serta menginisiasi benih – benih perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat untuk melawan kaum kolonial dan penjajah. Kiprah pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak hanya di bidang keagamaan, namun juga dalam bidang sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan, sehingga pesantren selalu memberikan inspirasi dan inovasi serta solusi tersendiri dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman.
 
Perjuangan Kiai dan Santri sejak masa penjajahan kolonial, masa awal kemerdekaan dan sampai saat ini menjadi sebuah perjuangan yang tidak mudah untuk mempertahankan bangsa ini dari rongrongan penjajah. Di era modern saat ini, Kiai dan Santri NU bersusah payah membendung dan melawan gerakan paham radikal (ekstrim kanan dan ekstrim kiri), kelompok anti pancasila yang ingin mendirikan negara di atas NKRI dan kelompok intoleran yang mulai merebak dan berdampak sistemik terhadap tatanan sosial masyarakat di negeri ini.
 
Sebuah perjuangan yang sangat berat bagi Kiai dan Santri dalam menghadapi tantangan zaman ini, serta pemersatu atas keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan yang ada di Indonesia. Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para Kiai memahami dan menerapkan kalimat “Habbul Wathan Minal Iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan, meski harus mengorbankan nyawa sekalipun. Kiai dan Santri NU merupakan bagian penting dan tak bisa dipisahkan dalam pergulatan sejarah Indonesia dan secara historis selalu loyal dan komitmen dalam mengawal keutuhan NKRI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here