FENOMENA TEROR LONE-WOLF DI INDONESIA

232

Oleh : Stanislaus Riyanta (Pengamat Intelijen dan Terorisme, Mahasiswa Doktoral Universitas Indonesia)

INFOSULBAR.COM, Opini – Akhir-akhir ini marak aksi teror dilakukan oleh perseorangan, bergerak sendiri tanpa afiliasi dengan kelompok mana pun. Karena mirip gerakan serigala yang sendirian, maka aksi teror perorangan tersebut akhirnya disebut dengan teror lone-wolf.

Di Indonesia, dalam tiga tahun terakhir ini, sudah beberapa kali terjadi aksi teror lone-wolf. Pada hari Minggu, 28 Agustus 2016, IAH, pemuda berusia 18 tahun, melakukan aksi teror dengan mencoba meledakkan bom di Gereja Katolik Santo Yosep Medan yang sedang digunakan untuk beribadah.

Meskipun IAH mengaku bahwa aksinya disuruh orang tertentu dengan imbalan uang, namun bukti yang tidak kuat tersebut justru menunjukkan bahwa IAH bertindak sendiri setelah terpapar paham radikal melalui media internet.

Aksi teror lone-wolf juga terjadi di Cikokol, Tangerang, Banten pada 20 Oktober 2016. Pelaku SA secara membabi buta menyerang tiga orang polisi yang sedang bertugas di Pos Lantas Yupentek Cikokol. Sebelumnya, SA ditegur oleh petugas karena menempelkan stiker tertentu yang mirip dengan lambang kelompok radikal.

Jumat, 30 Juni 2017, di Masjid Falatehan, Blok M, Kebayoran Baru, seorang laki-laki menyerang anggota Brimob pada saat sedang salat isya berjamaah. Pelaku berhasil dilumpuhkan oleh petugas karena dianggap membahayakan setelah melukai tiga anggota Brimob.

Peristiwa teror lone-wolf yang terbaru adalah aksi kekerasan di Gereja St Lidwina Sleman Yogyakarta. Pelaku (S) menyerang umat Katolik yang sedang mengikuti Misa di gereja tersebut, Minggu (11/2/2018).

Dengan menggunakan pedang, pelaku melukai dua orang umat Katolik, dan Pastor Karl-Edmund Prier SJ. Petugas dari Polri yang mencoba menangani aksi tersebut juga terkena sabetan pedang sehingga mengalami luka di tangan sesaat sebelum menembak pelaku.

Aksi teror lone-wolf tidak terjadi begitu saja. Tindakan nekat yang dilakukan oleh pelaku teror tersebut karena sebelumnya pelaku sudah terpapar paham radikal, yang bisa terjadi karena pengaruh langsung mengikuti aktivitas kelompok tertentu yang radikal, atau karena pengaruh tidak langsung yang diperoleh melalui media internet.

Aksi teror yang dilakukan oleh orang yang sudah terpapar paham radikal, tanpa afiliasi atau tanpa kendali pihak lain tersebut yang disebut teror lone-wolf, aksi teror yang dilakukan sendirian.

Aksi teror lone-wolf cenderung lebih lemah daya hancurnya daripada aksi teror yang dilakukan oleh kelompok. Hal ini karena individu pelaku teror lone-wolf melakukan aksi berdasarkan pengalaman pribadi atau tutorial dari internet.

Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok biasanya sudah terlatih dan disiapkan secara matang yang memang bertujuan untuk menciptakan ketakutan orang banyak sekaligus untuk menyampaikan pesan kepentingan ideologi dari kelompok tersebut.

Meskipun aksi teror lone-wolf cenderung lebih lemah dibandingkan aksi teror oleh kelompok, teror lone-wolf tidak boleh diremehkan. Pelakunya nekat dan siap melakukan apa pun, hingga mengorbankan nyawanya demi kepentingan ideologi yang dia pahami.

Pelaku teror lone-wolf, walaupun tidak terlatih secara teknis, namun cenderung dapat menentukan sasaran secara spesifik. Karena tidak terampil, dan hanya dengan modal nekat, dalam beberapa kasus, dominan aksi teror lone-wolf dapat digagalkan bahkan pelaku akhirnya menjadi korban atas aksinya sendiri.

Individu yang melakukan aksi teror lone-wolf cenderung sulit dideteksi. Aktivitas perseorangan tersebut tentu tidak mudah dikenali, yang tentu saja berbeda dengan aksi teror oleh kelompok tertentu, dengan teknologi yang sudah maju bisa dideteksi melalui arus percakapan di alat komunikasinya. Selain itu, transaksi keuangan di antara anggota kelompok bisa dilacak sehingga menunjukkan peta jaringan tersebut.

Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok maupun perorangan tanpa afiliasi, harus dicegah. Pencegahan dapat dilakukan jika sebelumnya pelaku dan persiapan aksinya dapat dideteksi.

Pihak yang diharapkan dapat mengenali dan mendeteksi pelaku teror lone-wolf adalah orang terdekat dari pelaku tersebut, seperti keluarga, teman terdekat, dan masyarakat sekitar. Perubahan perilaku seseorang yang berubah menjadi tertutup. Narasi radikal yang disampaikan, termasuk ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu menjadi indikasi awal yang harus diperhatikan oleh orang terdekat.

Jika keluarga atau masyarakat menemukan adanya perubahan perilaku orang di sekitarnya yang mengarah kepada paham radikal terutama dengan kebencian terhadap kelompok tertentu, maka sebaiknya cepat ditangani dengan melakukan pendekatan kemanusiaan. Jika tidak bisa, maka tidak ada salahnya keluarga terdekat atau masyarakat untuk melaporkan hal tersebut kepada pemerintah setempat.

Jika orang terdekat dari orang yang diduga terpapar paham radikal justru menjauh atau memusuhi, maka situasi ini akan menjadi katalisator bagi orang tersebut untuk semakin radikal.

Terorisme tidak boleh terjadi lagi di Indonesia. Negara ini sudah dibangun melalui keragaman suku, agama, dan ras yang menjadi satu negara Indonesia. Paham radikal yang ingin memaksakan kepentingannya untuk diterima orang lain. Jangan sampai diberi ruang atau celah, sehingga semakin kuat bahkan mewabah di masyarakat.

Kunci utama dari pencegahan aksi teror adalah memastikan bahwa anggota keluarga atau orang terdekatnya tidak terpapar paham radikal. Pencegahan yang dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat harus dilakukan, terutama dengan menguatkan sistem sosial yang saling membangun, hidup rukun dan damai, dalam satu kesatuan negara Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here