MENGGAGAS PEMBANGUNAN PERTANIAN SULAWESI BARAT

501

Oleh: Sulaiman Teddu (Dosen DPK Universitas Tomakaka Mamuju/Mahasiswa Doktoral Pascasarjana Universitas Hanasuddin)

INFOSULBAR.COM, Opini – Tema politik menjadi sangat laris dalam tiap perbincangan dan diskusi baik kaum muda maupun kaum tua, merambah kemana-mana mulai dari petani, pengusaha, sampai pegawai (baca ASN), pelajar sampai mahasiswa. Semua ikut berkompetisi menyusun narasi tentang asumsi dan prediksi bertema politik.

Hajatan lima tahunan menjadi euphoria tersendiri dalam bingkai kehidupan sosial masyarakat. Dan euphoria terus berlanjut seiring waktu. Namun, mari sejenak kita melewatkan politik, dengan mencoba mendeksripsikan kondisi pertanian di Sulawesi Barat.

Pertanian adalah merupakan pilar utama perekonomian bangsa, oleh karena itu membangun perekonomian bangsa tentu harus dimulai dengan pembangunan pertanian. Bertitik tolak dari hal tersebut, Sulawesi Barat sebagai provinsi yang memiliki potensi pertanian harus mampu menunjukkan pertanian sebagai entitas wilayah.

Dalam aktivitas pembangunan khususnya pertanian, banyak factor yang memegang andil dalam mewujudkan tujuan yang akan dicapai. Factor tersebut antara lain : Lahan, modal, tenaga kerja dan manajemen (pengelolaan). Secara simplisit gambaran umum pertanian Sulawesi Barat berkaitan dengan empat hal tersebut dapat dilihat dari uraian dibawah ini.

Lahan sebagai media tumbuh bagi tanaman dan ternak adalah merupakan factor produksi, akan tetapi berbagai permasalahan yang muncul terkait lahan pertanian, yaitu : degradasi lahan karena praktek pertanian masa lalu (revolusi hijau) yang memiliki kecenderungan pemaksaan produksi, konversi lahan pertanian ke non pertanian karena desakan pembangunan di sector lain dan pertambahan jumlah penduduk, penurunan dan kegagalan panen karena musim yang sulit diprediksi (akibat pemanasan global), selain itu ketersediaan infrastruktur juga masih sangat terbatas.

Sementara kebijakan pembangunan pertanian yang dilakukan oleh decision maker belum sepenuhnya mencapai tujuan yang ingin dicapai karena selain ego sectoral masing instansi juga karena masih rendahnya kesadaran petani. Praktek kapitalisasi pertanian yang dilakukan sejak orde baru menjadikan modal sebagai factor produksi kedua setelah lahan, sehingga ketersediaan modal menjadi mutlak karena berbagai sarana produksi memerlukan biaya. Keterbatasan modal yang dimiliki petani menyebabkan kredit menjadi pilihan utama dalam memenuhi ketersediaan sarana produksi yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi.

Kebijakan bantuan kredit produksi yang dilakukan oleh pemerintah, oleh petani masih belum optimal. Hal ini selain karena selain kebutuhan biaya produksi, tuntutan pemenuhan kebutuhan konsumsi juga menjadi beban bagi petani (efek kemiskinan), selain itu birokrasi dan syarat serta jaminan yang rumit juga menjadi kendala. Sehingga sebagian petani memilih kredit non pemerintah (ijon) dari tengkulak.

Tenaga kerja adalah merupakan faktor produksi, juga menjadi lahan paling subur untuk praktek kapitalisasi. Karena dalam kegiatan produksi inovasi dan teknologi sebagai pengganti tenaga kerja berubah setiap saat. Perubahan inilah yang kurang mampu di adopsi dan di implementasikan oleh petani, sehingga keterlambatan dan kesalahan dalam merespon teknologi menjadikan kendala produksi di bidang pertanian. Pengalaman yang dimiliki petani tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup tidak menjadikan petani inovatif dalam mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi pengolahan dengan menggunakan mesin (tractor), pengendalian hama dan penyakit serta gulma dengan menggunakan bahan kimia, teknologi panen dengan menggunakan mesin (power thresher dan combine) mengurangi jumlah tenaga manusia yang melakukan pemanenan. Keadaan ini menyebabkan tenaga kerja di pedesaan menjadi pengangguran yang terselubung.

Bagaimana membangun pertanian di Sulbar sebagai daerah yang memiliki potensi ?

Sulawesi Barat sebagai provinsi yang masih belia, memiliki potensi yang luar biasa. Hanya saja potensi tersebut dibarengi dengan pertanyaan bagaimana membangun pertanian ?

Bertitik tolak dari teori Mosher 1963 dalam bukunya Getting Agriculture Moving, maka ada lima syarat pokok pembangunan pertanian, yaitu :

1. Adanya pasar untuk hasil-hasil usaha tani.

Pembangunan pertanian adalah suatu proses untuk meningkatkan produksi hasil usahatani, sehingga untuk hasil-hasil tersebut perlua adanya pasar dan jaminan harga yang cukup tinggi untuk membayar biaya tunai dan daya upaya yang telah dikeluarkan petani pada saat memproduksinya. Ketersediaan pasar bagi petani menjadi hal yang mutlak ada. Pasar selain terjadinya transaksi, secara ekplisit juga bermakna jaminan harga bagi petani. Produksi usahatani oleh petani tidak lagi dibatasi oleh fluaktuasi harga. Jaminan harga dapat menstimulus petani dalam meningkatkan produksinya. Keberadaan pasar yang jelas akan menjadi ruang akses bagi petani dalam memasarkan hasil usahataninya.
Pasar juga harus menjadi wadah transaksi yang terpercaya memberi jaminan bagi petani baik dalam memenuhi kebutuhan sarana produksi usahatani maupun dalam memasarkan hasil usahataninya. Kehadiran pasar bagi petani menjadi faktor dalam mendukung keberlanjutan usahataninya.

2. Teknologi yang senantiasa berkembang.

Teknologi adalah keniscayaan dalam sebagai bentuk dinamika dalam setiap perkembangan zaman dan bukti keberadaan manusia sebagai pelaku produksi. Maka tuntutan perubahan akan selalu menghadirkan teknologi yang senantiasa berkembang, petani sebagai subjek (dibaca pelaku) produksi harus senantiasa memiliki kapabilitas untuk mengadopsinya. Ketidak mampuan petani dalam proses adopsi teknologi, akan memberi ruang bagi elemen lain untuk mengambil peran tersebut. Keberlanjutan usahatani sebagai institusi produksi di tingkat petani akan sangat ditentukan oleh paket teknologi yang berkembang seiring zaman. Keberadaan teknologi sebagai solusi yang efektif harus senantiasa di diadopsi oleh petani dalam mendukung usahatani yang digeluti. Peran pemerintah dalam memberi suluh informasi bagi petani dalam proses alih teknologi sangatlah penting. Apalagi dengan dukungan dukungan teknologi informasi yang ada.
Teknologi yang ada perlu di maknai sebagai solusi dan bukan masalah, karena keberadaannya untuk mempermudah pekerjaan petani, bukan merebut pekerjaan petani. Penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab harus senantiasa berjalan secara seimbang. Cukup revolusi hijau menjadi pelajaran berharga bahwa keberlanjutan pertanian bukan semata-mata produksi yang melimpah dan melupakan ekosistem. Teknologi yang diadopsi harus mampu ramah terhadap lingkungan. Sehingga tema-tema penyuluhan selalu menekankan pada aspek skala ekonomi, lingkup ekologi dan integrasi sosial. Karena secara factual Kerusakan tanah pertanian di daerah tropis sebagian besar disebabkan oleh pemilihan dan penerapan teknologi yang salah tanpa memeperhatikan nilai-nilai ekologi. Selain itu produksi yang dilakukan tidak lagi berorentasi pada ekspor komoditas primer (mentah), paling tidak target produksi di Sulawesi Barat minimal sudah setengah jadi.

3. Tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal.

Bahan dan alat produksi yang selama ini digunakan oleh petani menjadi suatu yang sangat membantu petani dalam mengelolah usahatani yang digeluti. Akan tetapi, bahan dan alat tersebut harus “diimpor” dari luar titik sentral produksi, sehingga kondisi ini menimbulkan ketergantungan petani akan alat dan bahan produksi yang di datangkan dari luar daerah. Selain itu, spekulasi harga dan terhadap alat dan bahan tersebut menjadi semakin tajam. Alat mesin pertanian misalnya yang di datangkan akan memberi ruang baru bagi elemen lain untuk turut mengambil bagian dan memperoleh ekstra dari proses produksi. Keterlibatan elemen lain menjadi beban tersendiri bagi petani yang secara ril memiliki modal sedikit dalam kegiatan produksinya. Walaupun solusi akan kondisi ini sudah dilakukan, seperti pengadaan alat dan mesin pertanian oleh pemerintah dalam bentuk bantuan langsung dan tidak langsung akan tetapi belum begitu efektif. Karena salah satu faktanya adalah bantuan yang diberikan masih tebang pilih sebab efek keberpihakan dalam kontes politik daerah.
Solusi yang efektif adalah dengan menumbuhkan usaha industri lokal yang mampu menjadi produsen alat dan bahan produksi, hal ini terutama untuk bahan-bahan seperti bibit, pupuk dan obat-obatan. Karena bibit, pupuk dan obat-obatan selama ini masih menjadi objek spekulasi oleh kartel dan oknum untuk memperoleh keuntungan ekonomi yang tinggi.

4. Adanya perangsang produksi bagi petani

Salah satu tujuan pembangunan adalah keadilan sosial, pemerataan dan peluang ekonomi. Maka dalam membangun pertanian perlu upaya adanya peran pemerintah dalam menyusun upaya perangsang produksi bagi petani. Rangsangan produksi dapat dilakukan dengan memberikan jaminan harga. Garansi harga dengan standar kualitas dapat dilakukan dengan menyusun dalam bentuk kebijakan (role of the game). Kedua komponen tersebut (harga dan kualitas) menjadi pilar utama dalam menyusun kebijakan. Implementasi kebijakan tersebut juga harus dilakukan secara tegas.
Ketegasan pemerintah terutama pemerintah daerah dalam menentukan dan mengimplementasikan kebijakan terkait harga dan kualitas bagi komoditi pertanian, akan menjadi perangsang dalam kegiatan produksi petani. Perangsang berikutnya adalah kredit produksi bagi petani yang lunak dan berkeadilan. Kredit menjadi penting karena petani umumnya petani di Sulawesi Barat adalah petani gurem, yang memiliki modal usahatani rendah. Sehingga dalam mengelola usahatani sangat terbatas sarana produksi yang digunakan, karena keterbatasan modal. Dalam pemberian modal usahatani juga tetap menerapkan kebijakan yang tegas, karena karakter petani dari masa lalu yang terbentuk secara autopetic adalah kurang efektifnya pemanfaatan (tidak tepat sasaran) kredit yang diperoleh dari pemerintah.

5. Tersedianya pengangkutan yang lancar dan kontinyu.

Pengangkutan adalah salah satu faktor yang menentukan efisien dan tidaknya biaya yang harus dikeluarkan oleh petani dalam usahataninya. Letak geografis wilayah di Sulawesi Barat menjadi kendala bagi petani untuk memasarkan produksi pertanian. Rentang yang jauh antara titik produksi dengan titik konsumsi menyebabkan rantai pemasaran tidak efisien dan efektif. Pengangkutan harus lancar dari titik produksi ke titik konsumsi, sehingga rantai pasok dapat efektif dan efisien. Kebijakan ini tentu berkaitan infrastruktur wilayah yang harus cepat dibenahi, dan yang bertanggung jawab secara umum adalah pemerintah daerah.

Optimalisasi 5 syarat di atas akan menjadi stimulus bagi pembangunan pertanian di Sulawesi Barat. Karena pembangunan pertanian di Sulawesi Barat tetap dianggap terpenting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sektor pertanian ini menjadi penyelamat perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain pertumbuhannya negatif. Peranan sektor pertanian adalah sebagai sumber penghasil bahan kebutuhan pokok, sandang dan papan, menyediakan lapangan kerja bagi sebagian besar penduduk, memberikan sumbangan terhadap pendapatan Nasional yang tinggi, memberikan devisa bagi negara dan mempunyai efek pengganda ekonomi yang tinggi dengan rendahnya ketergantungan terhadap impor (multiplier effect), yaitu keterkaitan input-output antar industri, konsumsi dan investasi.

Dampak pengganda tersebut relatif besar, sehingga sektor pertanian layak dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor pertanian juga dapat menjadi basis dalam mengembangkan kegiatan ekonomi perdesaan melalui pengembangan usaha berbasis pertanian yaitu agribisnis dan agroindustri. Dengan pertumbuhan yang terus positif secara konsisten, sektor pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Urgensi pertanian inilah yang menjadi faktor utama pertanian harus menjadi prioritas pembangunan oleh pemerintah khususnya pemerintah daerah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here