Hasil Lomba Kaligrafi Mushaf Al Qur’an Disoal, Ini Penyebabnya

2402

INFOSULBAR.COM, Mamuju – Hasil lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) bidang Kaligrafi Dekorasi, Mushaf, Naskah dan Kontemporer Al Qur’an yang diselenggarakan di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) belum lama ini menuai kritikan dan sorotan dari sejumlah pihak.

Betapa tidak, ditengarai hasil dari lomba tersebut tidak adil dan cenderung membuat dewan juri atau dewan hakim dinilai telah berpihak kepada peserta lomba.

“Kami merasa kurang puas dengan hasil lomba ini, karena yang juara satu bisa dibilang tak layak juara satu. Kami menduga ada permainan dari dewan juri atau dewan hakim, karena yang juara tak lain adalah keluarga dewan juri atau dewan hakim itu sendiri,” kata salah seorang peserta lomba, Galang Suardi, saat ditemui INFOSULBAR.COM usai menemui Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Selasa (15/5/18) malam.

Dia mengaku, salah satu bukti dugaan keberpihakan dewan juri adalah menetapkan pemenang lomba tanpa menilai secara objektif dari karya-karya para peserta lomba.

“Karya juara dua justru memiliki karya yang sangat bagus. Dari pewarnaan, desain, tulisan yang kreatif dan sangat indah karena menginspirasi justru ditetapkan sebagai juara dua. Sementara, ada juga karya yang diputuskan sebagai juara satu namun karyanya masih tetap menggunakan kaidah murni, dimana dalam ketentuan kontemporer sesungguhnya tidak boleh menggunakan kaidah murni, sehingga mestinya tidak boleh juara satu. Justru yang ditetapkan sebagai juara dua merupakan karya asli kontemporer, yang dilihat memiliki imajinasi yang lebih unggul, warna juga lebih bagus,” jelasnya.

Selain itu, Galang bersama Kaligrafer juga mengritik dewan hakim atau dewan juri karena diduga tidak menilai karya dari salah satu peserta, padahal sangat berpotensi menjadi juara dalam lomba kaligrafi mushaf Al Qur’an itu.

“Juga ditengarai ada karya yang disembunyikan sehingga tak dinilai saat penilaian, dengan pertimbangan bahwa jika itu dimunculkan akan menjadi juara juga. Sebab karyanya yang sangat indah dan bagus. Sehingga dewan juri memutuskan juara satu yang merupakan keluarga salah satu dewan juri. Kapan karya ini muncul, maka bisa kemungkinan yang juara satu,” sebutnya.

Olehnya, hasil ini dipertanyakan oleh sejumlah peserta. Bahkan, sebagai bentuk evaluasi kepada para dewan hakim atau dewan juri, sejumlah peserta ini mendatangi Sekda Provinsi Sulawesi Barat, Ismail Zainuddin agar dewan hakim atau dewan juri dapat diganti untuk lomba Kaligrafi di tahun-tahun mendatang.

“Kami bersama Kaligrafer datang menemui Pak Sekprov, dan kami menyampaikan keluhan kepada beliau agar mencabut atau mengganti dewan hakim untuk lomba kaligrafi di tahun-tahun mendatang, agar tidak terjadi lagi hal serupa berupa dugaan kecurangan. Nama dewan jurinya adalah Mahmuddin Said dan Ustad Alwi. Kami duga telah berpihak dalam menentukan pemenang lomba sebab yang juara adalah anak, istri dan ponakannya,” kata Galang.

Salah seorang Kaligrafer asal Sulbar yang pernah menjadi juara lomba di Sulawesi Selatan, Asrul, ikut memberikan komentar terkait hasil lomba ini. Dia menduga ada permainan dewan hakim atau dewan juri.

Sementara itu, salah satu dewan hakim atau dewan juri lomba Kaligrafi, Mahmuddin Said, saat ingin dikonfirmasi via telepon oleh INFOSULBAR.COM masih belum tersambung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here