PANCASILA DAN IDUL FITRI

127

Oleh : Toni Ervianto (Pemerhati Sosial)

INFOSULBAR.COM, Opini – Diskursus dan dialetika terkait falsafah dan dasar negara Pancasila kembali mengemuka dan menjadi wacana politik di Indonesia pasca munculnya pemberitaan soal pendapatan Dewan Pengarah BPIP yang dinilai mencengangkan, dan kemudian ada pemberitaan terkait mundurnya Kepala BPIP dari jabatannya, dimana semua momentum tersebut terjadi saat bulan Ramadhan.

Dalam sebuah acara talk show ngetop di salah satu TV nasional, pakar hukum tata negara Refli Harun menyebut “Pancasila was captured by the state”, sehingga digunakan untuk menggebuk lawan politik pemerintah. Pendapat ini benar dan harus menjadi lesson learnt atau pelajaran penting bagi pemerintah untuk tidak mengulanginya. Kemudian ada pembicara yang membandingkan situasi di Jepang dan negara lain yang jelas tidak menggunakan Pancasila mengapa lebih Pancasilais daripada Indonesia. Penulis sepakat dengan Profesor Salim Said bahwa ideologi dan demokrasi dapat berjalan dengan baik jika kemakmuran sudah tercapai.

Sebenarnya, semua pihak perlu mendukung BPIP karena pentingnya lembaga ini untuk mengimplementasikan nilai nilai Pancasila sesuai dengan perkembangan jaman. Tugas berat akan dihadapi BPIP pasca lebaran, walaupun tidak perlu risau karena upaya pengarusutamaan Pancasila telah menjadi concern dan spotlight berbagai kalangan, sehingga hanya diperlukan banyak kreatifitas dan kerjasama yang baik antar semua komponen bangsa melalui BPIP dengan strategi diversifikasinya yang diimplementasikan dalam berbagai program kerja ke depan.

Momentum mudik sangat menggambarkan bagaimana Pancasilaisnya para pemudik dengan tetap mematuhi peraturan lalu lintas, mengedepankan budaya antri, mendengarkan petunjuk dan arahan petugas di lapangan, berbudaya dalam berkendaraan di jalanan, termasuk aparat negara yang sedang siaga 1 juga ikhlas menerimanya karena membahagiakan pemudik dengan menjaga keamanan situasi adalah kebahagiaan itu sendiri, termasuk sedekah bagi mereka.

Pancasila dan momentum lebaran adalah ibarat dua sisi mata uang, karena sejatinya bermaafan terutama meminta maaf kepada orang tua, melaksanakan sholat Iedul Fitri dan melakukan mudik sebagai ibadah adalah implementasi sila pertama Pancasila.

Kemudian adanya keputusan pemerintah untuk libur bersama menyongsong Idul Fitri yang didukung oleh berbagai pihak termasuk pihak swasta adalah refleksi sila kedua Pancasila. Fenomena ini sangat mengharukan ketika pabrik jamu Sido Muncul dan perusahaan lainnya juga menyediakan jasa mudik gratis bagi karyawan dan mereka yang kurang mampu. Ini juga refleksi sila kedua Pancasila.

Sila ketiga Pancasila juga akan semakin kuat dan solid dengan tradisi mudik dalam rangka Idul Fitri, karena dengan saling berkunjung, saling memberi makan dan minuman khas daerah masing masing memperkuat kohesi sosial dan meneguhkan diversifikasi bangsa ini termasuk memperkuat persatuan Indonesia.

Lebaran juga merefleksikan sila keempat Pancasila, dimana tidak sedikit pada hampir banyak keluarga saat lebaran diwarnai dengan berbagai pembicaraan yang tidak hanya pembicaraan umum, namun juga pembicaraan dalam keluarga terkait trending topic dan isu isu yang viral dan biasanya orang tua memberikan arahan ke anaknya serta kakak kepada adiknya yang semuanya dilakukan secara demokratis, dan tidak ada jarang ada musyawarah kekeluargaan membahas rencana ke depan bagi keluarga besar.

Last but not least, sila kelima Pancasila dalam momentum lebaran terlihat dari semakin banyaknya sarana dan prasarana transportasi yang dibangun dan disediakan negara telah memperlancar arus mudik. Kebahagiaan, kelancaran mudik dan keamanan yang kondusif adalah bentuk keberadaban itu sendiri.

Selamat mudik, selamat berlebaran di “hometown” masing masing dan jaga terus persatuan serta marwah Pancasila. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here